Pelarangan Merugikan Masyarakat yang Lemah: Dampak Kebijakan Pelarangan atas Konsumen Irasional
Octubre 3, 2016  //  DOI: 10.35497/273073
Jeffrey Miron

Metrics

  • Eye Icon 1697 views
  • Download Icon 913 downloads
Metrics Icon 1697 views  //  913 downloads
Abstract

Pertanyaan refleksi untuk mengawali bagian ini adalah, apakah pernah terjadi suatu masa
di mana kendali penuh oleh negara akan menghasilkan kondisi yang lebih baik daripada
pengendalian diri yang dilakukan oleh individu?
Pada tipe konsumen yang rasional (rational consumer), jawaban atas pertanyaan tersebut
adalah tidak pernah. Tipe ini mengasumsikan bahwa konsumen akan selalu mengetahui
beragam pilihan bagi diri mereka sendiri, mempunyai semua informasi yang relevan tentang
pilihan tersebut untuk kemudian dapat mengolah informasi tersebut secara tepat, dan pada
akhirnya dapat membuat keputusan yang konsisten dari waktu ke waktu. Campur tangan
pemerintah atas pilihan-pilihan individu – yang dinilai sebagai bentuk perubahan dari kontrol
pribadi menjadi kontrol negara, hanya akan merugikan masyarakat, yang seharusnya bisa
membuat keputusan terbaik bagi dirinya.
Paradigma konsumen yang rasional memiliki sejarah yang panjang. Banyak ahli ekonomi masih
memandang bahwa paradigma tersebut sangat berguna sebagai salah satu pendekatan yang
menjelaskan kondisi positif dan normatif. Namun sebagian ahli ekonomi dan non-ekonomi
yang lain mempercayai bahwa konsumen tidak sepenuhnya rasional. Penilaian ini dibangun
berdasarkan observasi langsung pada perilaku individu dan penelitian eksperimental
khususnya dalam bidang psikologi dan ekonomi yang dilakukan untuk mematahkan teori
konsumen rasional.1
Apabila konsumen tidak sepenuhnya rasional, diskusi tentang kontrol oleh individu dan
kontrol oleh negara mungkin akan tampak tidak menarik. Intervensi pemerintah tidak
secara otomatis akan mempengaruhi keputusan konsumen irasional, karena konsumen
irasional mungkin membuat keputusan yang tidak tepat atas kemauan mereka sendiri. Akan
tetapi, saya berpendapat bahwa irasionalitas konsumen justru akan memperkuat argumen pengendalian diri oleh individu (self-control), bukan sebaliknya. Dalam hal ini argumen yang
saya berikan adalah dalam konteks “Perang terhadap Narkoba”— upaya jangka panjang
pemerintah Amerika Serikat (US) untuk melarang ganja, kokain, heroin dan zat memabukkan
lainnya. Jika konsumen berperilaku rasional dalam penggunaan obat-obatan terlarang, maka
pelarangan terhadap narkoba akan memperburuk konsumsi pengguna narkoba. Tetapi jika
benar konsumen tidak selalu rasional, larangan terhadap narkoba mungkin dapat mencegah
beberapa keputusan yang salah dalam penggunaan obat-obatan yang tidak aman, sehingga
larangan terhadap narkoba dapat dipertimbangan sebagai langkah kebijakan yang tepat.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, “Perang terhadap Narkoba” pada akhirnya
masih tergolong kebijakan yang keliru—dan hal tersebut akan menjadi semakin buruk jika
ada konsumen yang irasional. Kebijakan tersebut mungkin dapat mencegah beberapa
penyalahgunaan narkoba, tapi dampak lebih luasnya akan merugikan konsumen tipe irasional
dibandingkan dengan konsumen rasional. Pengendalian diri individu sebagai pendekatan
terhadap masalah narkoba mungkin tidaklah sempurna, namun pengendalian oleh negara
akan jauh lebih buruk.

Full text
Show more arrow
 
More from this repository
Reforming Trade Policy to Lower Maize Prices in Indonesia
Indonesian Food Trade Policy during COVID-19
Promoting Constructive Agriculture and Food Investment in ASEAN
🧐  Browse all from this repository

Metrics

  • Eye Icon 1697 views
  • Download Icon 913 downloads
Metrics Icon 1697 views  //  913 downloads