Penyediaan Akses terhadap Pendidikan Berkualitas lewat Sekolah Swasta Berbiaya Rendah: Sebuah Studi Kasus di Koja, Jakarta Utara

Theresa Sila Wikaningtyas
Policy analysis Center for Indonesian Policy Studies • Agustus 2017 Indonesia

Unduh teks lengkap
(Bahasa Indonesia, 28 pages)

Abstrak

Sekolah swasta mencakup 35% dari keseluruhan sekolah di Indonesia, dan di sejumlah daerah jumlahnya melebihi sekolah negeri. Koja, sebuah wilayah miskin di Jakarta Utara, adalah salah satu daerah tersebut – terdapat 86 sekolah swasta dan 77 sekolah negeri di sana. 51 dari 86 sekolah swasta di Koja adalah sekolah swasta berbiaya rendah, yang menerima anak-anak dari keluarga prasejahtera. Sayangnya, di Indonesia, sektor ini belum mendapatkan perhatian yang layak dari masyarakat. Meskipun sekolah swasta merupakan bagian dari kontribusi masyarakat bagi pendidikan nasional di Indonesia, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Pendidikan Nasional, diskursus nasional akan pendidikan berfokus hampir seluruhnya pada sekolah negeri. Sudah waktunya masyarakat mengakui peran penting pendidikan swasta dalam melayani rumah tangga prasejahtera. Antara akhir tahun 1960an hingga tahun 1980an, sekolah swasta berbiaya rendah menjamur di Koja – 28 sekolah baru didirikan, dan kebijakan serta inisiatif pemerintah daerah mendukung pertumbuhannya. Peran serta masyarakat didorong untuk melayani warga di daerah-daerah yang tidak memiliki sekolah negeri. Sebaliknya, sepanjang tahun 1990an hingga 2000an, jumlah sekolah swasta berbiaya rendah yang didirikan pada periode tersebut di Koja menurun sebagai hasil dari peraturan baru dalam sistem pendidikan nasional. Tahun-tahun belakangan ini, pemerintah meresmikan dua peraturan yang menentukan persyaratan minimum untuk sarana dan prasarana sekolah (Peraturan Kementerian Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 dan Nomor 40 Tahun 2008). Persyaratan untuk minimal luas lahan dan ukuran bangunan menghambat baik pendirian sekolah swasta berbiaya rendah yang baru maupun perluasan sekolah yang sudah ada, karena keterbatasan lahan yang tersedia di daerah perkotaan yang padat seperti Koja. Persyaratan ini harus dikaji ulang untuk menciptakan lingkungan yang lebih kondusif dalam membantu sekolah-sekolah swasta ini dalam melayani warga miskin. Berlawanan dengan asumsi banyak orang, kualitas pendidikan sekolah swasta berbiaya rendah sebanding dengan sekolah-sekolah lain di area tersebut. Sekolah-sekolah swasta berbiaya rendah di Koja telah terakreditasi A dan B oleh Badan Akreditasi Nasional. Kualitas sekolah juga ditunjukkan lewat banyaknya prestasi dari kegiatan ekstrakurikuler di tahun-tahun belakangan ini. Dengan kata lain, para orang tua menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah ini karena anggapan akan kualitasnya. Sayangnya, para orang tua murid belum terdorong untuk berperan serta dalam proses pengambilan keputusan di sekolah, sehingga mereka tidak terlibat sejauh yang mereka sebenarnya mampu. Orang tua murid harus didukung untuk berperan serta dalam proses pengambilan keputusan sekolah dengan cara-cara yang lebih luas daripada yang telah diatur dalam peraturan tentang komite sekolah (Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 75 Tahun 2016).

Metrik

  • 87 kali dilihat
  • 36 kali diunduh

Penerbit

Center for Indonesian Policy Studies

The Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) is dedicated to providing policy analysis and pra... tampilkan semua