Prospek dan Tantangan Padi Hibrida di Indonesia
Juli 23, 2019  //  DOI: 10.35497/287925
Indra Krishnamurti, Muhammad Diheim Biru

Metrik

  • Eye Icon 1009 kali dilihat
  • Download Icon 2076 kali diunduh
Metrics Icon 1009 kali dilihat  //  2076 kali diunduh
Abstrak

Dengan jumlah penduduk yang besar dan terus bertumbuh pesat, Indonesia perlu memenuhi
kebutuhan beras yang terus meningkat untuk mencegah semakin membumbungnya harga beras.
Harga beras di Indonesia kini sudah dua kali lebih mahal daripada harga di pasaran internasional,
dan impor beras, yang tidak populer, masih diperlukan untuk menutupi kekurangan ini.
Padi hibrida memiliki potensial besar untuk meningkatkan produktivitas. Padi hibrida memiliki
produktivitas musiman rata-rata 7 ton/ha, dibandingkan dengan padi inbrida yang hanya
mencapai 5,15 ton/ha. Namun, luas tanam padi hibrida hanya kurang dari satu persen dari total
luas tanam padi di Indonesia, dan telah mengalami stagnasi selama beberapa tahun.
Para petani pada umumnya menganggap menanam padi hibrida ini menguntungkan. Petani
di Lombok mengalami mendapatkan hasil 10,4 ton/ha dibandingkan padi inbrida yang hanya
menghasilkan 8 ton/ha. Selisih hasil ini memberikan pendapatan tambahan sekitar Rp 10 juta
per musim per hektar.

Kurangnya layanan penyuluhan yang tepat, beberapa varietas padi hibrida yang bermasalah,
dan preferensi konsumen yang tidak terpenuhi adalah faktor yang menghalangi adopsi
berkelanjutan padi hibrida oleh petani Indonesia. Selain itu, pembatasan impor membatasi
akses petani ke pasokan benih berkelanjutan, yang membuat kurang menarik bagi mereka untuk
menginvestasikan waktu dan upaya untuk beralih ke padi hibrida.

Jika padi hibrida diharapkan untuk mencapai tingkat luasan seperti di Cina (51 persen dari total
luas tanam padi) dan Pakistan (25-30 persen), penting bagi sektor swasta untuk bekerja sama
dengan pemerintah Indonesia dalam mengembangkan dan mengkomersilkan varietas benih
yang tepat. Untuk saat ini, impor masih tetap penting; bukan hanya untuk menyediakan benih
dalam jumlah cukup, tetapi juga untuk menguji apakah varietas padi hibrida tertentu sesuai
dengan kondisi lokal di Indonesia. Begitu ada kapasitas yang cukup untuk mengembangkan
varietas-varietas ini di Indonesia, ketergantungan pada impor akan berkurang secara alamiah.
Hal ini sangat bergantung pada keahlian teknis yang tersedia di Indonesia. Pengembangan
padi hibrida di Indonesia saat ini terkendala oleh rendahnya jumlah pakar yang mampu
mengembangkan varietas baru. Agar impor benih dapat digantikan secara berkelanjutan,
program pembangunan manusia perlu dilakukan secara bekerjasama dengan berbagai
universitas. Pendirian pusat penelitian di berbagai daerah di Indonesia akan memungkinkan
pengembangan varietas yang sesuai dengan preferensi konsumen tertentu serta iklim dan
kondisi tanah di daerah-daerah yang berbeda.

Teks lengkap
Show more arrow
 

Metrik

  • Eye Icon 1009 kali dilihat
  • Download Icon 2076 kali diunduh
Metrics Icon 1009 kali dilihat  //  2076 kali diunduh