Kebijakan Perdagangan Pangan Indonesia saat Covid-19
April 30, 2020  //  DOI: 10.35497/309123
Felippa Amanta, Ira Aprilianti

Metrik

  • Eye Icon 2150 kali dilihat
  • Download Icon 2784 kali diunduh
Metrics Icon 2150 kali dilihat  //  2784 kali diunduh
Abstrak

Pesan Utama:

- Covid-19 mengganggu sistem pangan Indonesia. Lapangan kerja di sektor pertanian diprediksi berkurang sebesar 4,87% dan pasokan pertanian domestik berkurang sebesar 6,20%. Impor sektor pertanian diprediksi akan menurun sebesar 17,11%, sementara harga impor pertanian diprediksi akan meningkat sebesar 1,20% pada 2020 dan sebesar 2,42% pada tahun 2022. Dengan berkurangnya pasokan domestik dan impor, kelangkaan pangan dan inflasi harga pangan dimungkinkan akan terjadi.

- Peraturan Kementerian Perdagangan mengharuskan importir untuk menyebutkan negara asal ketika mengajukan izin. Maka dari itu, importir tidak bisa secara bebas mencari pemasok baru ketika negara pengekspor menutup perdagangannya saat Covid-19. Kondisi tersebut menambah risiko ketahanan pangan, menyebabkan kelangkaan, dan meningkatkan harga pangan di Indonesia.

- Pemerintah Indonesia sebaiknya mempertimbangkan untuk menghapus hambatan dagang pangan dan komoditas pertanian dengan mengeliminasi tarif dan melonggarkan persyaratan Surat Persetujuan Impor (SPI) untuk impor komoditas pangan utama seperti daging sapi dan gula. Jika tarif dihapus, harga impor komoditas pertanian diprediksi tetap akan meningkat, tetapi hanya sebesar 0,65%.

- Diplomasi ekonomi Indonesia sebaiknya fokus untuk memastikan keberlanjutan pasokan pangan dari negara-negara pengekspor.

- Kementerian Pertanian harus melindungi pelaku rantai pasokan dengan upaya-upaya kesehatan tambahan untuk memastikan lancarnya pasokan barang.

Teks lengkap
Show more arrow
 

Metrik

  • Eye Icon 2150 kali dilihat
  • Download Icon 2784 kali diunduh
Metrics Icon 2150 kali dilihat  //  2784 kali diunduh