Memberdayakan Orang Tua - Kebijakan Inovatif untuk Meningkatkan Kualitas dan Pendanaan Sekolah

Muhammad Adi Rahman
Policy analysis Center for Indonesian Policy Studies • Oktober 2016 Indonesia

Unduh teks lengkap
(Bahasa Indonesia, 20 pages)

Abstrak

Sistem pendidikan terkini di Indonesia dinilai kurang sukses. Meskipun sistem ini berhasil memberikan akses bagi siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) untuk menikmati pendidikan dasar, yaitu mencapai 99% siswa SD dan 94% siswa SMP (BPS, 2015), kualitas pendidikan yang diberikan masih menjadi tantangan utama. Dengan begitu besarnya dana yang tersedia untuk pendidikan nasional, peningkatan kualitas pendidikan sudah seharusnya menjadi mandat bagi semua pihak yang terlibat.

Rendahnya kualitas pendidikan telah dibuktikan melalui sejumlah indeks pengukuran mutu pendidikan. Nilai rata-rata dalam Ujian Nasional antara tahun 2015 dan 2016 mengalami penurunan yang signifikan, dari 61.29 ke 54.78 (Antaranews, 2016). Kemampuan siswa dalam mata pelajaran umum di sekolah seperti matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam juga mengalami penurunan. Hal ini dibuktikan melalui riset yang dilakukan oleh Trends in Internasional Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Progress in Internasional Reading Literacy Studies (PIRLS) yang menunjukkan bahwa performa siswa Indonesia tertinggal jauh di belakang performa siswa negara-negara lain.

Alokasi dana untuk pendidikan juga tidak luput dari perhatian karena adanya kesenjangan antara apa yang diharapkan dari kenaikan gaji guru di Indonesia. Kenaikan gaji guru dilihat tidak sejalan dengan peningkatan kualitas siswa yang terukur, seperti yang disebutkan oleh De Ree J (2012), walaupun hasil temuan Bank Dunia menyatakan bahwa kebanyakan alokasi dana pemerintah untuk pendidikan dihabiskan untuk gaji guru yaitu sebesar $3.5 milyar dari total $7 milyar.

Salah satu penyebab terjadinya kesenjangan ini adalah tidak adanya pemberdayaan siswa dan orang tua. Pada banyak kasus yang sudah diteliti, orang tua tidak menyuarakan kepedulian mereka tentang manajemen sistem pendidikan. Sekolah biasanya tidak mengakomodasi kebutuhan dan saran dari orang tua karena dalam pemahaman mereka sekolah hanya wajib bertanggungjawab pada institusi pemerintah yang menangani pendidikan. Di sisi lain, orang tua di sekolah swasta menunjukkan kendali yang lebih besar untuk turut berpartisipasi dalam sistem pendidikan. Pihak sekolah swasta biasanya menempatkan peran penting orangtua sebagai sumber keuangan sekolah.

Tulisan ini menunjukkan bahwa harus ada perubahan dalam sistem keuangan sekolah untuk meningkatkan manajemen sekolah dan kualitas pendidikan. Siswa, yang diwakili oleh orang tua, harus memiliki kebebasan untuk mengontrol pembiayaan keuangan siswa dan memilih sekolah yang mereka anggap sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan memberikan kuasa untuk memilih ke tangan orang tua/ siswa, mereka dapat bertanggungjawab atas pilihan mereka akan pendidikan. Dengan melekatkan anggaran pendidikan ke siswa, dapat dikatakan bahwa siswa akan memiliki lebih banyak kuasa untuk memilih sekolah mana yang akan memberikan mereka pelayanan yang lebih baik dan hal ini pun akan memberikan rasa tanggung jawab bagi siswa yang merupakan penerima nyata pendidikan. (Shah dan Braun-Munzinger, 2006; Astle, S. Bryant, and C. Hotham, 2011; Sjunnesson, 2012).

Sistem ini sebetulnya sudah diterapkan di beberapa tempat dengan tingkat kesuksesan yang berbeda-beda di negara Amerika Serikat, Swedia, Belanda dan Chili. Ada empat jenis program sekolah yaitu kupon sekolah, tabungan pendidikan (Education Saving Account – ESA), beasiswa kredit pajak, serta kredit dan pengurangan pajak perorangan.

Makalah ini akan menelaah manfaat dan kekurangan dari program ini dengan mengambil beberapa contoh praktik terbaik dari beberapa negara yang disebutkan di atas. Akan tetapi, makalah ini akan mengenalkan dan membahas dua bentuk pertama sekolah pilihan yaitu kupon sekolah dan Tabungan pendidikan (ESA) karena dua program lain yang menggunakan pendekatan berbasis pajak sulit untuk diterapkan di Indonesia. Sistem pajak di Indonesia belum setara dengan negara-negara maju.

Sebagai suatu kajian program sekolah pilihan yang ditujukan untuk memberikan rekomendasi kebijakan demi meningkatkan performa pendidikan di Indonesia, makalah ini akan diawali dengan diskusi tentang konsep pilihan sekolah termasuk konsep kupon sekolah, program Tabungan Pendidikan dan manfaatnya bagi sistem pendidikan. Bagian kedua akan membahas penerapan kupon sekolah dan program Tabungan Pendidikan di dunia, menganalisis kisah sukses dan juga kekurangan dari penerapan kedua program ini sebagai pembelajaran yang bisa dipetik oleh Indonesia. Bagian terakhir akan memberikan beberapa rekomendasi kebijakan untuk menyediakan kerangka kebijakan yang sesuai dengan penerapan program pilihan sekolah.

Metrik

  • 81 kali dilihat
  • 32 kali diunduh

Penerbit

Center for Indonesian Policy Studies

The Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) is dedicated to providing policy analysis and pra... tampilkan semua